Letjen TNI (purn) Syarwan Hamid marah besar. Ini postingan mantan pejabat Orde Baru yang ramai viral di medsos:

"Saya hampir 15 tahun bertugas disatuan Intel dan pernah mengalami pendidikan Intel strategis, betul-betul tak paham menterjemahkan fenomena apa, atau pakai teori apa Presiden dengan jajarannya menangani masalah Bangsa, khususnya Keamanan Negara ini.

Semakin hari bertambah terus warga Cina yg patut diduga berstatus atau berkwalifikasi Para militer masuk ke Indonesia, terbanyak di bagian Timur.

Saya kira bagi mereka yang punya rasa memiliki terhadap NKRI, terlebih yg memiliki qualifikasi intel atau punya aparat intel pasti akan sangat risau dan gemas.

Berhari hari ini masyarakat mempertanyakan masalah itu, namun pihak yg kompeten, Presiden,Tni ,Polri, Wakill Rakyat bungkam berjuta juta bahasa.Kenapa????????? Anda semua telah membuka pintu Republik ini lebar-lebar untuk dimasuki oleh anasir Cina, ( jangan naif menganggap mereka hanya sekedar buruh ). Sebelum ada jawaban yg masuk akal, maaf Saya menilai Presiden dan jajarannya berpotensi jadi Pengkhianat Bangsa atau bisakah itu dianggap ” kecerobohan ” ? .

Terkutuklah kalian jika kelak terjadi petaka pd Negri ini. Insya Allah Saya yakin Rakyat akan memobilisasi perlawanan, jika gejalanya akan menjadi serius.
Syarwan Hamid. "
Sampai berita ini diturunkan, belum berhasil mendapatkan konfirmasi kebenaran dari postingan tentara tokoh Orde Baru ini.



Seperti diketahui, Letjen TNI (Purn) Syarwan Hamid (lahir di Siak, Riau, 10 November 1943; umur 73 tahun) adalah tokoh militer dan politik Indonesia. Ia pernah menjadi Menteri Dalam Negeri pada Kabinet Reformasi Pembangunan. Ia juga dikenal sebagai tokoh gerakan Pelajar Islam Indonesia (PII) semasa mudanya dulu.
Lulus Akademi Militer Nasional (AMN) tahun 1966, menurut data wikipedia, ia menempuh pendidikan di Sekolah Staf dan Komando ABRI dan Lemhanas. Hamid pernah menjadi Kasrem 063/SGJtahun 1985. Kemudian menjabat Kapendam III/Siliwangi tahun 1986, Pardor Sarli Dispenad pada 1988 dan Asisten Teritorial Kodam Jaya, 1989. Setelah itu ia bertugas menjadi Danrem 011/Lilawangsa Aceh, 1990. Saat menjabat Komandan Korem Lilawangsa, Lhokseumawe, Aceh ia berhasil mengatasi pemberontakan Gerakan Aceh Merdeka terhadap NKRI.
Atas jasanya Hamid diangkat menjadi Kadispen TNI Angkatan Darat pada tahun 1992 dengan pangkat Brigadir Jenderal (bintang satu). Tak lama kemudian jadi Kapuspen TNI tahun 1993, Assospol Kassospol ABRI tahun 1995, hingga menjabat Kassospol ABRI dengan pangkat letnan jederal pada tahun 1996.[AndiAbdad/KIN]