Recent comments

Breaking News

UTANG Rp 4.000 TRILYUN & GIZI BURUK




KABRINDOnews - Panjangnya jalan tol, jembatan, bendungan dan gedung-gedung lintas batas nan megah, terus bertambah. Di sela-sela gempita hasil pembangunan, terkuak fakta daya beli masyarakat turun karena harga kebutuhan pokok terus melambung. Dan kini, nun jauh dari pusat pemerintahan, sedikitnya sudah 61 orang meninggal akibat gizi buruk.

Pemerintah kembali mencatat rekor utang luar negeri. Berdasarkan data yang dirilis Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, seperti dikutip detik.com (16/1/18), sampai akhir 2017 jumlah utang pemerintah pusat hampir tembus Rp 4.000 triliun, tepatnya Rp 3.938,7 triliun. Jumlah tersebut ekuivalen 29,2% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Itu artinya, selama 3 tahun menjabat, Presiden Joko Widodo menambah utang sebesar Rp 1.300 triliun lebih. Padahal, selama berkuasa selama 32 tahun mantan Presiden Soeharto hanya mewariskan utang sebesar Rp 551,4 triliun Presiden BJ Habibie yang berkuasa selama setahun dalam kondisi krisis ekonomi, menambah sekitar Rp 380 triliun, Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur (2,5 tahun) Rp 200 triliun, Presiden Megawati Soekarnoputri (2,5 tahun) Rp 27 triliun, Susilo Bambang Yudhoyono (10 tahun) berutang Rp 1.400 triliun.

Sebagian besar utang di masa Jokowi dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur seperti jalan, jembatan, bendungan hingga gedung-gedung mewah di tapal batas. Para pembantunya selalu berkelit, utang tersebut masih aman dibanding negara-negara lain yang rasio utangnya terhadap PDB di atas 50%. Bahkan Singapura dan Jepang di atas 100% dari PDB. Salah satu jargon yang paling sering kita dengar adalah utang banyak untuk pembangunan, bukan dikorupsi seperti rezim sebelumnya.

Benarkah demikian? Lalu pembangunan itu untuk siapa? Wabah gizi buruk yang melanda Kabupaten Asmat, Papua, benar-benar menampar kesadaran kita. Mirisnya, Dinas Kesehatan Provinsi Papua mengetahui bencana itu dari media massa. Medan yang sulit menjadi alasan mengapa hal itu tidak segera diketahui dan ditangani. Kondisi semakin memprihatinkan karena menurut Kadis Kesehatan Papua drg Alosius Giyai berdasarkan data dari RSUD Agats, Kabupaten Asmat, jumlah penderita gizi buruk dan campak masih tinggi yakni mencapai 568 kasus di mana 393 penderita lainnya menjalani rawat jalan.

Presiden Joko Widodo dan Menteri Kesehatan Nila Moeloek punya jawaban yang sama. “Medan di sana itu memang sangat berat sekali,” ujar Jokowi usai menonton pertandingan persahabatan Timnas Indonesia melawan Islandia, di Stadion Gelora Bung Karno Senayan, Minggu malam, seperti dikutip detik.com (14/1/18).

Utang kian melambung, subsidi dihilangkan, sementara masih ada warga yang mati karena gizi buruk, tentu bukan prestasi. Apapun dalihnya, ini bentuk ketidakmampuan pemerintah. Medan yang buruk tidak bisa dijadikan alasan karena kondisi alam sudah terbentuk sejak dahulu kala. Jika sampai saat ini masih sulit diakses, itu justru bukti ketidakmampuan pemerintah dalam mengatasi kondisi alam.

Jangan pula dilihat angkatnya yang “hanya” sepersekian persen dari total penduduk Indonesia. Sebab wabah gizi buruk ini sangat mungkin hanya puncak dari gunung es. Faktanya, daya beli masyarakat turun dratis. Bahkan menurut Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita di kampungnya sudah banyak rakyat yang makan nasi aking- sisa nasi yang dikeringkan dan dimasak ulang.

Pembangunan infrastruktur sangat penting. Namun pembangunan ekonomi yang berdampak secara langsung kepada kesejahteraan masyarakat, terutama mendorong peningkatan penghasilan sehingga berdampak pada naiknya daya beli masyarakat, lebih mendesak. Program padat karya tunai, hanya balsam sebagaimana program bantuan langsung tunai (BLT) di era SBY. Sebab program tersebut bersifat jangka pendek sehingga tidak akan memperbaiki pondasi ekonomi masyarakat.

Masih ada waktu 2 tahun untuk mengubah keadaan, terutama di bidang ekonomi kerakyatan. Persoalannya, kemana sebenarnya arah kebijakan pemerintahan Jokowi – JK berkiblat?

Salam
penulis :Yon Bayu Wahyono

[IG/KIN]

No comments

Silahkan berkomentar di kolom sini :