Recent comments

Breaking News

TEROR SUBUH, ULAMA DIBUNUH : KEBANGKITAN POLITIK OPOSISI-ISLAM




KABARINDOnews-,
Pada tulisan sebelumnya yang saya beri judul '3 PERISTIWA DALAM 7 HARI: DARI KEMATIAN FERNANDO, BENTROK GMBI HINGGA PENGANIAYAAN BRUTAL ATAS KH. UMAR BASRI' terpapar keresahan atas tindakan keji yang terjadi di tanah Pasundan. Tak lama setelah tulisan tersebut menjadi viral, tepatnya Selasa sore menjelang malam 30 Januari 2018, rumah mantan Deputi Operasi Basarnas Mayjen [Purn] TNI Tatang Zaenudin di Jl. Bukit Pasir No. 49 RT 001/RW 012 Kelurahan Pasir Gunung Selatan, Kecamatan Cimanggis, Depok, Jawa Barat, diberondong peluru oleh pelaku tak dikenal.
Tak butuh waktu lama, teror kembali muncul. Kamis subuh tanggal 1 Februari 2018, Ustadz Prawoto Komandan Brigade Pimpinan Pusat Persatuan Islam [Persis], dikabarkan meninggal dunia, dibunuh oleh seorang tak dikenal di daerah Cigondewah Kidul, kecamatan Bandung Kidul, Bandung.
Tak berhenti sampai disitu, pada hari Sabtu 3 Februari 2018 seorang santri pondok pesantren Al-Futuhat Garut, berinisial Abd alias Uloh diserang oleh 6 orang tak dikenal menggunakan senjata tajam. Ustaz Ahmad Syatibi pimpinan pondok membenarkan kejadian tersebut.
Lain cerita, pada 4 Februari 2018 seorang pemuda yang bersembunyi di atas Masjid At Tawakkal 1 Kota Bandung, mengacung-acungkan pisau seraya berteriak-teriak 'ustadz bukan?! Ustadz bukan?!'. Kejadian serupa terulang lagi, 5 Februari 2018, kali ini pelakunya seorang perempuan. Sasarannya adalah pondok pesantren Fajruslam di daerah Sentul City Bogor. Mondar mandir selama dua hari di sekitar pondok, setelah di interogasi, didapati sajam dan sebilah plat besi di dalam tas.
"Letkol [Purn] Rudolf Baringbing, perwira Bais yang telah pensiun berkata bahwa, 'hanya orang edan yang mau percaya pembunuhan itu murni tindakan kriminal'. Baringbing mencatat beberapa ciri dari kerjaan intel: pembunuh-pembunuh itu diorganisasi dengan baik, sifatnya rapi [methodical] dan tampaknya dirancang untuk menebar ketegangan komunal."
Begitulah penggalan kalimat yang pernah ditulis oleh seorang sarjana Australia bernama Kevin O’Rourke dalam bukunya yang berjudul 'Reformasi: The Struggle for Power in Post-Soeharto'. Buku yang terbit 4 tahun setelah peristiwa 'Ninja Banyuwangi' 1998. Buku yang berupaya mengungkap aktor dibalik sepak terjang 'ninja' pembunuh ratusan ulama di Jawa Timur. Jumlah korban beragam versi. Pemkab Banyuwangi [masa itu] merilis 115 korban jiwa yang tersebar di 20 kecamatan. Sedangkan versi TPF Nahdatul Ulama korban meninggal dunia lebih banyak, 147 jiwa. [Baca : SEJARAH ORANG GILA 'TERLATIH']
'Menebar ketegangan komunal', begitu kata Baringbing. Jika benar demikian, sungguh keji dan biadab siapapun aktor dibalik tindakan membunuh ulama dan menganiaya santri demi menciptakan situasi tak kondusif di tanah Pasundan.
Politik Indonesia kontemporer ditandai oleh kebangkitan kekuatan oposisi-Islam yang termanifes, diantaranya adalah:
1. Gerakan Masjid
2. Gerakan ormas Islam
3. Gerakan ulama yang tak terikat pada salah satu ormas Islam tertentu
Belakangan, gerakan aktivis kritis dan mahasiswa mulai tumbuh mengikuti. Geliat protes kepada pemerintahan semakin menguat dan masif di beberapa daerah.
Tak ketinggalan, politik oposisi-Islam yang mewujud kedalam Deklarasi Gerakan Indonesia Sholat Shubuh [GISS], memuat tiga poin:
1. Bertekad dan bercita-cita untuk senantiasa istiqomah datang ke masjid di waktu shubuh untuk sholat shubuh berjama’ah.
2. Senantiasa mengajak anggota keluarga, tetangga, dan kawan-kawan untuk datang ke masjid di waktu Shubuh untuk sholat Shubuh berjama’ah.
3. Senantiasa mengajak anggota keluarga, tetangga, dan kawan-kawan untuk mendukung Gerakan Indonesia Sholat Shubuh (GISS) di seluruh NKRI demi terwujudnya kebangkitan umat yang ditandai jumlah jama’ah seperti jama’ah sholat Jum’at.
Gayung pun bersambut. Deklarasi GISS tumbuh bak jamur dimusim penghujan. Daerah-daerah menyambut baik. 27 September 2017 mengambil lokasi di Masjid At Tin, Taman Mini Indonesia Indah, puluhan ulama dan ribuan jamaah mendeklarasikan GISS. Sabtu, 14 Oktober 2017, giliran Masjid Jenderal Ahmad Yani, Kota Malang, Jawa Timur dipenuhi jamaah dari berbagai wilayah untuk mengikuti tabligh akbar sekaligus deklarasi Gerakan Indonesia Shalat Subuh [GISS].
Sejumlah ulama, habaib, pimpinan ormas Islam serta ribuan jamaah Muslim berkumpul di Masjid Agung Al Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu 4 November 2017 untuk mengikuti Tabligh Akbar Politik Islam [TAPI] ke-10 sekaligus deklarasi Gerakan Indonesia Shalat Subuh [GISS]. Tak berakhir sampai disitu saja. Senin, 13 November 2017, giliran Masjid Kristal Khadija, Widomartani, Ngemplak Sleman, Yogyakarta, secara resmi Gerakan Indonesia Sholat Subuh [GISS].
Meluasnya kekuatan politik oposisi-Islam ditambah geliat aktivis kerakyatan dan mahasiswa, tentu saja memberi dampak bagi penguasa hari ini. Tragedi Banyuwangi dan sekitarnya tahun 1998 harus menjadi pelajaran kolektif, bahwa soliditas dan persatuan kekuatan oposisi sangatlah penting. Mengaktifkan kembali siskamling dan ronda malam. Namun tetap menjaga kewarasan dan tak mudah termakan isu apalagi provokasi.
Setelah kematian Fernando aktivis Partai Gerindra, penembakan rumah Mayjen [Purn] TNI Tatang Zaenudin, penganiayaan santri, lalu 2 ulama dianiaya dan terbunuh, bisa jadi merupakan peringatan kewaspadaan bagi kita semua. Hari ini Jawa Barat, esok mungkin giliran kota-kota lain dengan latar belakang korban yang beragam.
[Tulisan ini akan _bersambung,_ sejalan dengan design pembunuhan dan penganiayaan terhadap santri dan ulama untuk beberapa hari ke depan]

[AndiAbdad/KIN]

No comments

Silahkan berkomentar di kolom sini :