Recent comments

Breaking News

Mempersoalkan Wawasan Sejarah Jenderal Polisi

****



KABARINDOnews -,
Guru Besar Sejarah Universitas Padjadjaran Bandung Ahmad Mansur Suryanegara menyatakan, pernyataan Kapolri menunjukkan lemahnya pengetahuan sejarah para jenderal polisi terkait peran ulama dan umat Islam di Indonesia. “Itu bukan kali pertama,” kata Mansur.

Sebelumnya, kata dia, mantan kapolda Jabar yang juga maju sebagai calon wakil gubernur Jabar dari PDI Perjuangan, Irjen Polisi Anton Charliyan, salah mengutip sejarah dalam acara di stasiun televisi. Anton menyebut Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy’ari sebagai salah satu dari Panitia Sembilan Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

“Fakta sejarahnya, apa yang disampaikan Kapolri dan Anton itu salah total. Ini cukup memalukan. Saya meminta perwira dan jenderal polisi untuk belajar sejarah lagi agar kesalahan yang sama tidak terulang,” ujar Mansur.

Mansur yang merupakan penulis buku sejarah Indonesia ternama berjudul "Api Sejarah " melanjutkan, kesalahan dua jenderal polisi dalam mengutip sejarah bangsa Indonesia, khususnya terkait umat Islam, sangatlah fatal, apalagi dengan menyebut hanya NU dan Muhammadiyah saja yang berperan mendirikan bangsa ini.

“Ke mana Mohammad Natsir yang juga tokoh penting di Persatuan Islam (Persis) dan juga pernah menjadi perdana menteri kelima di era Sukarno? Bagaimana Tuan Guru Kiai Haji Abdul Madjid pendiri Nahdlatul Wathan di NTB yang kemarin diberi gelar pahlawan nasional oleh Presiden Jokowi? Apakah perannya selama ini yang telah dicatat sejarah dilupakan Kapolri?” sindir Mansur.

Kesalahan fatal lain yang disampaikan Anton Charliyan dengan menyebut Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy'ari sebagai Panitia Sembilan yang dibentuk pada 1 Juni 1945. Padahal, Ahmad Dahlan meninggal pada 23 Februari 1923. “Dan bukan Hasyim Asy'ari yang menjadi Panitia Sembilan, melainkan putranya, Wahid Hasyim.”

Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Mohammad Siddik juga sangat menyesalkan pernyataan Kapolri. Menurut dia, pernyataan Kapolri sangat menghina dan sangat disesalkan.

“Pernyataan itu tidak sesuai dengan sejarah. Tidak ada ormas Islam yang merontokkan NKRI. DDII memprotes pernyataan Kapolri yang mengabaikan ormas Islam lainnya,” kata Siddik. [Andi Abdad/KIN/arif satrio nugroho].

No comments

Silahkan berkomentar di kolom sini :