Recent comments

Breaking News

Mengenal Apa Itu " One Belt and One Road "



KABARINDOnews - 14-15 Mei 2017, Tiongkok menyelenggarakan KTT “One Belt and One Road” Forum (OBOR) atau KTT Jalur Sutra di Beijing. Sebanyak 130 negara, 70 organisasi, dan lebih dari 1.500 peserta dan 29 kepala negara termasuk Presiden R.I Jokowi datang untuk menghadiri forum yang sangat megah yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Bambang Brodjonegoro mengatakan, selain Indonesia, negara-negara lain juga berlomba-lomba mengambil investasi dari China. Bambang menyebutkan, Belt and Road sejatinya diusung China untuk mengatasi ketimpangan yang ada di Negara Tirai Bambu tersebut. Namun, selain itu juga dimanfaatkan oleh negara-negara yang hadir sebagai modal investasi.

“Belt and Road” adalah sebuah inisiatif untuk kerja sama yang dilakukan oleh Presiden Xi Jinping pada tahun 2013. ‘Belt/Sabuk” mengacu pada Sabuk Ekonomi dan Jalur Sutra mengacu pada Jalur Sutra Maritim Abad ke-21.

Apa itu Belt and Road Initiative (BRI)?

“Belt and Road” Initiative (BRI) adalah usaha ekonomi, diplomatik, geopolitik multifaset yang telah berubah melalui berbagai iterasi, dari “Jalur Sutra Modern” menjadi “One Belt One Road”.

Tiongkok menginisiasi dan memimpin BRI dengan program investasi 1,3 trilyun USD untuk menciptakan jaringan infrastruktur termasuk jalan, kereta api, telekomunikasi, jaringan pipa energi, dan pelabuhan. Ini akan meningkatkan interkonektivitas ekonomi dan memfasilitasi pembangunan di Eurasia, Afrika Timur, dan lebih dari 60 negara mitra.

Pertama kali disusulkan pada September 2013, ini adalah inisiatif kebijakan luar negeri Presiden Tiongkok Xi Jinping. Ini adalah proyek lingkup geografis dan keuangan yang belum pernah ada sebelumnya dalam sejarah umat manusia.

BRI memiliki dua komponen: Sabuk Ekonomi Jalur Sutra atau Silk Road Economic Belt (SREB) dan Jalur Sutra Maritim Abad ke-21 yang berbasis laut. Bersama-sama kedua ini membentuk “sabuk” dan “jalan”. (Belt and Road / 一带一路).

Selama lebih dari tiga tahun, jaringan infrastruktur darat SREB mencakup menghubungkan serangkaian proyek konstruksi “Belt and Road” utama telah dimulai satu demi satu. Enam koridor Ekonomi: Tiongkok-Mongolia-Rusia, New Eurasia Land Bridge serta Tiongkok-Asia Tengah-Asia Barat, Tiongkok-Semenanjung Indochina, Tiongkok-Pakistan, Banglades-Tiongkok-India-Myanmar. Konektivitas SREB akan terhubungkan jaringan pipa hydrokarabon, rel kereta api kecepatan tinggi.

Jalur Sutra Maritim untuk mengembangkan pelabuhan-pelabuhan utama yang terhubungkan dengan transportasi darat.

Dalam tahun 2016, total perdagangan Tiongkok dengan negara-negara di sepanjang “Belt and Road” adalah 953,6 milyar USD merupakan 25,7% dari total perdagangan global Tiongkok. Saat ini “Belt and Road” telah menjadi produk masyarakat internasional terpopuler.

      Sumber: https://www.latimes.com

Tiongkok telah berusaha keras dengan menekankan sifat korperatif dari inisiatif ini dan bertujuan “menghasilkan yang saling menguntungkan (win-win outcomes)”. Dalam pidatonya di Forum Belt and Road for International Co-operation di Beijing Presiden Xi membingkai BRI dalam “Perdamaian dan Kerjasama (Peace and Cooperation)”, “Keterbukaan dan Inklusivitas”, “Saling Belajar”, dan “Saling Menguntungkan”.
Ditengarai bahwa Tiongkok menginginkan sistem yang dipimpinnya untuk harmoni mutualitas ini terdapat strategi substantif untuk menumbuhkan sistem operasi ekonomi internasional. Untuk berpotensi menggantikan sistem Konsensus Washington dan Bretton Woods yang dipimpin AS.

Mengapa Inisiatif “Belt and Road” dari Tiongkok ini mendapat begitu banyak perhatian dari masyarakat internasional?

Sekarang di dunia sedang dibayangi krisis ekonomi yang terus berlanjut, proteksionisme perdagangan, dan sentimen antiglobalisasi mengkhawatirkan negara-negara berkembang. Bagaimana seharusnya dunia saling berbagi, saling menguntungkan, dan membantu negara-negara miskin dan terbelakang untuk mengembangkan kerja sama dan berkembang bersama-sama? Itulah topik yang menjadi perhatian setiap orang.

Tiongkok telah membentuk Bank Investasi Infrastruktur Asia atau Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) dan Dana Silk Road senilai 40 USD. Ini menjadi kendaraan keuangan untuk proyek infrastruktur BRI, selama ini sebagian besar dana berasal dari bank investasi Tiongkok.

Prospek dari akses ke dana finansial Tiongkok untuk mendanai investasi infrastruktur yang sangat dibutuhkan telah menarik perhatian banyak negara mitra prospektif. Banyak dari mereka menghargai persyaratan politik yang minimal yang menyertai keuangan Tiongkok, dibandingkan dengan dana yang ditawarkan dari IMF, Bank Dunia, dan Bank Pembangunan Asia.

BRI telah dipandang sebagai cara bagaimana Tiongkok secara produktif menggunakan cadangan modal yang sangat besar 3 trilyun USD, untuk menginternasionalisasi renminbi (mata uang Tiongkok), dan menangani struktural karena ekonominya yang “navigates” untuk mengendalikan apa yang disebut dengan “normal baru” dari pertumbuhan yang lebih rendah.

Mungkin yang paling menonjol di antara ini adalah isu over-capacity industri. Dengan memaksimalkan pertumbuhan yang didorong oleh hiruk-pikuknya investasi pembangunan infrastruktur domestik menyusul krisis keuangan global tahun 2008, BRI merupakan paket stimulus internasional yang memanfaatkan kapasitas industri dan pengamanan industri yang idle/nganggur di Tiongkok terutama industri utamanya seperti semen dan baja. Demikian menurut pendapat para pengamat Barat.

Jalur Sutra Modern

Telah dibuka jalur kereta api “China Railway Express”, yang saat ini merupakan jalur kereta api terpanjang di dunia yang melewati sejumlah terbanyak negara. Dimulai dari kota Yiwu Tiongkok bagian timur dengan melewati Eurasia dengan total panjang 13.052 km, dan memerlukan sekitar 18 hari untuk mencapai titik barat ke Kota Madrid, Spanyol. Setelah itu, kereta ini akan membawa anggur dan minyak zaitun Spanyol ke Tiongkok bersama dengan produk pertukaran lainnya dari negara-negara di sepanjang jalur kereta api tersebut.

Lebih dari 2.000 tahun yang lalu, di Jalur Sutra kuno, deretan kereta unta menghubungkan perdagangan antara Timur dan Barat.

Saat ini 27 kota di Tiongkok telah mengembangkan jalur 51 “China-Europe train” yang menjangkau 11 negara Eropa dan 28 kota.

Kereta api berjalan pada Jalur Sutra Baru/Modern ini memberikan peluang bisnis bagi perusahaan-perusahaan di sepanjang Jalur Sutra ini.

Koridor Ekonomi Tiongkok-Paskistan yang dimulai dari Gwadar- Pakistan dan terhubung ke Jalur Sutra di Utara dan Jalur Sutra Maritim di selatan.

Selama beberapa tahun terakhir ini, proyek-proyek untuk meng-upgrade Karakoram Highway, Peshawar-Karachi Highway, dan Lahore Orange Line Metro Train secara resmi dimulai pembangunannya. Pembangunan pembangkit listrik tenaga batubara berturut-turut dan 9 proyek lainnya, proyek Pelabuhan Gwadar juga mengalami kemajuan positif.

Zafar Udin Mahmood, Ambassador of China-Pakistan Economic Corridor mengatakan: Kelompok evaluasi internasional Bank Dunia sangat optimis untuk ekonomi Pakistan. Tahun ini, saya melihat sebuah laporan dari Bank Dunia yang mengatakan bahwa PDB Pakistan bisa mencapai 4,5% tahun ini. Ini rekor sejarah yang belum pernah kita alami selama lebih dari satu dekade.

Jalur Sutra Maritim Abad ke-21 yang dimulai dari Tiongkok dan berakhir di Eropa telah menjadi jalur perdagangan tersibuk di dunia. Tiongkok telah mendirikan 56 zona perdagangan dan kerja sama di lebih dari 20 negara sepanjang Belt and Road, dan menginvestasikan total lebih dari 18,5 milyar USD. Meningkatkan hampir 1,1 milyar USD dalam tarif dan memberi lapangan kerja 180.000 pada tuan rumah negara-negara.

Pengamat melihat jika bisa menyelesaikan lebih dari 10.000 pekerjaan, itu sesungguhnya merupakan fenomena sosial yang luar biasa. Bukan hanya masalah pekerjaan sederhana untuk beberapa ribu atau bahkan lebih dari 10.000 pekerja. Ini menyangkut 100.000 orang yang akan berubah karena ini berkaitan dengan kepentingan sosial.

“Belt and Road” adalah sebuah inisiatif untuk kerja sama yang dicetuskan Presiden Tiongkok Xi Jinping ada tahun 2013. “Belt/Sabuk” mengacu pada Sabuk Ekonomi Jalur Sutra, dan “Road/Jalan/Jalur” mengacu pada Jalur Sutra Maritim Abed ke-21 seperti yang telah dikemuka di atas.

Selama lebih dari tiga tahun, hasil “Belt and Road” telah melampaui ekspektasi, karena lebih dari 100 negara dan organisasi internasional telah merespons dan mendukung dengan positif, sementara lebih dari 50 negara telah menandatangani perjanjian kerja sama yang sesuai dengan Tiongkok. Bahkan, bagi negara-negara yang masih terjebak dengan turbulensi sekalipun seperti Afganistan, Syria, Libya, dan Yemen juga merespons secara positif.

Negara-negara yang berada dalam “Belt and Road” beberapa negara semula merupakan yang terpinggirkan oleh globalisasi. Sebagai contoh yang nyata, delapan negara dari sepanjang “Belt and Road” merupakan negara tertinggal, seperti Nepal dan Afganistan, negara-negara yang berpendapatan rendah, mereka jauh dari laut, jadi mereka selalu terpinggirkan.

Selain itu ada juga, 13 negara yang bukan anggota WTO dan 24 negara dengan indeks pembangunan manusia lebih rendah dari rata-rata global.

“Belt and Road” yang digagas oleh Tiongkok akan mengembangkan globalisasi yang dipandu untuk membantu mereka mencapai industrialisasi dengan pertanian modern, yang benar-benar akan membebaskan mereka dari status sebagai negara-negara miskin dan terbelakang.

Antonio Guterres, Sekjen PBB mengatakan: Inisiatif “Belt and Road” merupakan inisiatif yang sangat penting dari sudut pandang untuk membawa dunia bersama memfasilitasi ke arah globalisasi yang adil.

Ema Solberg, PM Norwegian mengatakan: Menurut saya ini adalah inisiatif yang bagus, juga karena Anda membuka konektivitas di area di mana Anda perlu mempunyai lebih banyak pembangunan ekonomi di antara negara-negara tersebut.

Seperti apa yang dikatakan oleh Parag Khanna peneliti dari Brooking Institute dalam bukunya “Connectography: Mapping the Future of Global Civilization,” infrastruktur yang akan dibangun manusia dalam 40 tahun ke depan akan melebihi total infrastruktur yang dibangun dalam 400 tahun terakhir. “Revolusi Interkonektivitas Global” sudah mulai, dan Tiongkok menciptakan Silk Road Economi Belt adalah infrastruktur berskala terbesar dalam sejarah global.

Saat ini, lima proyek koordinasi kebijakan, koordinasi fasilitasi, perdagangan tanpa hambatan, perdagangan keuangan dan obligasi yang diusulkan antara orang-ke-orang di “Belt and Road” menjadi jembatan untuk saling membangun antara Tiongkok dan negara-negara di sepanjang Belt and Road.

Wang Yiwei, Director of Institute of Int’l Affairs of Renmin University of China mengatakan: Saya pernah ke berbagai negara, dan bahkan Gateway Malaysia sedang dibangun sesuai dengan lima tujuan ini. Saya pernah ke Mombasa, Kenya, mereka ingin mengubahnya menjadi delta, atau tempat seperti Shanghai. Tempat ini akan menjadi Shanghai Afrika Timur. Setelah membangun pelabuhan, mereka akan membangun rel kereta api ke Nairobi, dan memperluaskannya ke Uganda, Ethiopia, dan negara-negara Afrika Tengah lainnya. Tak satu dari negara-negara Afrika Tengah memiliki pelabuhan, jadi sekarang mereka membangun perkeretaapian Addis Ababa-Djibouti dan ke Mombasa di sisi lainnya, dan membawa kehidupan ke seluruh pantai timur Afrika.

Di masa lalu di Somalia merajalela dengan bajak laut yang kelaparan sampai mati, seperti Ethiopia. Misalnya, di Afrika, Tiongkok membantu mereka membangun “tiga jaringan dan satu modernisasi” jaringanan penerbangan regional, jaringan kereta api berkecepatan tinggi, jaringan jalan raya, dan industrialisasi infrastruktur mereka. Itulah satu-satunya cara ekonomi Afrika agar dapat mencapai pertumbuhan yang cepat. Jadi, seluruh Afrika ingin bergabung dalam “Belt and Road” dan gagasan ini sangat populer di kalangan mereka (Afrika).

Pada 17 Maret 2017, Dewan Keamanan PBB dengan suara bulat mengeluarkan Resolusi 2344 tentang Afganistan, dan mengajurkan untuk pertama kalinya sebuah konsensus untuk memperkuat kerja sama ekonomi regional dengan membangun “Belt and Road”. Ini juga menekankan konsep-konsep penting pertama yang diusulkan oleh inisiatif “Belt and Road” seperti koordinasi kebijakan, keterkaitan, kerja sama yang saling menguntungkan, dan berbagi untuk masa depan umat manusia.

Forum yang diadakan 14-15 Mei 2017, berfokus sekitar penelitian dan pembahasan infrastruktur, investasi industri, kerja sama ekonomi, dan perdagangan, pertukaran kebudayaan, ekosistem dan lingkungan, kerja sama maritim, untuk mengoordinasikan arahan kerja sama, mengusulkan jalan untuk implementasi, konsolidasi kerja sama dan mempromosikan hasil secara praktis.

Menghidupkan Kembali Peradaban Pelaut Yang Tertidur.

Setelah berhembus peradaban pelaut ratusan tahun sirep, Jalur Sutra yang tertidur ber-abad-abad. Kini, dengan bangkitnya Tiongkok, Tiongkok tampaknya telah menggunakan kapsitas ekonominya yang besar berupaya terus meningkatkan reputasi internasional untuk pembangunan secara damai dengan apa yang disebut Inisiatif “Belt and Road.”

Perhatian seluruh dunia telah coba mengembalikan peradaban jalur darat dan laut kuno di Eurasia. Dan kisah peradaban berbasis daratan ini juga telah menyebabkan banyak memberi inspirasi dan refleksi bagi Tiongkok dan dunia modern.

Berkilas balik pada 139 SM, Kaisar Wu dari Han Dinasti (汉武帝) mengirim seorang utusan—Zhang Qian (张骞) untuk memimpin sebuah delegasi dari Chang’an ke Kawasan Barat untuk menghubungi Yuezi Agung (大月氏国). Dalam perjalanan dia ditangkap dan ditawan oleh Xiongnu (匈奴 yang konon kini menjadi salah satu enek moyang orang Hungaria?). Supuluh tahun kemudian Zhang Qian berhasil meloloskan diri, tapi dia tidak melupakan misinya. Akhirnya pada 129 SM dia sampai di tempat baru, karena Yueshi Agung telah bermigrasi ketempat yang sekarang disebut Afganistan. Setelah itu Jalur Sutra Darat terus tumbuh ke barat dan melewati Asia Tengah hingga mencapai Kekaisaran Romawi.

Demikian juga mengapa sekarang kita masih ingat Marco Polo? Itu karena Marco Polo adalah satu dari sedikit orang yang melakukan perjalanan di sepajang Jalur Sutra untuk sampai ke Tiongkok. Mengapa dia menajdi salah satu orang dari sedikit orang yang datang ke Tiongkok, namun sejumlah Produk Tiongkok ada di sepanjang Jalur Sutra ke Eropa?

Dengan kata lain, sebagian besar kafilah dagang hanya pergi ke pemberhentian berikutnya sepanjang perjalanan sebelum kembali ke tempat asalnya. Dan saat mereka kembali, tentu saja mereka akan membeli banyak produk lokal dan menjualnya kembalik ke titik mereka beasal. Transpotasi terdistribusi semacam ini yang menyebabkan kota sepanjang pantai menjadi berkembang, seperti Kabul dan Samarkand. Kota-kota tersebut terkait langsung dengan kemakmuran Jalur Sutra kuno.

Selama lebih dari 2.000 tahun, Jalur Sutra mengalami transisi sejarah yang tak terhitung jumlahnya. Hingga sekarangpun, masih menceritakan kisah pertukaran antara peradaban Timur dan Barat.

Pelajaran terbesar yang diberikan oleh Jalur Sutra kepada kita adalah hal itu merupakan produk umum yang dimiliki semua negara. Dalam proses mempertahankan produk bersama ini, semua orang menginvestasikan berbagai upaya, namun tak seorangpun yang ingin merusak.

Itu tidak semata-mata dimiliki oleh satu negara. Tiongkok bukanlah titik awal dari Jalur Sutra, juga dinasti Han dan Tang yang kuat di Tiongkok atau Kekaisaran Romawi kuno, hasil akhir dari Jalur Sutra adalah semua mengambil keuntungan. Semua negara di sepanjang jalur itu membagi keuntungan secara merata.

Setelah pada pertengahan Ming Dinasti, karena kebijakan birokrasinya yang tertutup, Kekaisaran Ottoman memonopoli Jalur Sutra. Pada saat yang bersamaan, dengan berkembangannya teknik pembuatan kapal dan navigasi transportasi maritim menggantikannya, yang menyebabkan perdagangan Jalur Sutra darat menurun.

Jalur Sutra Maritim, yang juga dimulai pada Diansti Han Barat, mencapai puncaknya dari tahun 1405 sampai 1433 pada zaman Ming Dinasti. Zheng He memimpin lebih dari 27.000 personil dengan 240 kapal besar berlayar ke “Laut Barat” sebanyak tujuh kali, pergi ke 39 negara di kawasan Asia dan Afrika.

Dalam kitab “Sejarah Ming Dinasti” mengagambarkan bahwa mereka itu berusaha untuk menampilkan atau menunjukan pasukan mereka ke luar negeri dan memamerkan kekayaan dan kekuasaan Tiongkok.” Dengan cara demikian ingin menunjukkan kekuatan Dinasti Ming.

Zheng He memberikan gambaran satu perdagangan damai. Beliau benar-benar meninggalkan karma baik kepada orang Tiongkok. Dia tidak bertindak  seperti orang Barat yang melakukannya kemudian. Seorang peneliti pernah ke Mauritius dan Kenya, dan mereka membicarakan tentang Zheng He di sana. Jika orang sedang transit dengan penerbangan ke Timur Tengah dan melewati Dubai, ada patung Zheng He di pusat perbelanjaaan.

Zaman Kolonial Orang Barat

100 tahun setelah Zheng He menjelalahi “Laut Barat” Kekuatan Barat mengalami kebangkitan dan berkembang dan terjadi perluasan maritim mereka. Setelah Perang Opium, Tiongkok menjadi daerah semi-koloni kekuatan barat, dan Jalur Sutra Maritim jatuh ke dalam kehancuran.

Kolonialis Barat menggunakan kekautan Kapal dan senjata mereka untuk merebut wilayah dan menjarah sumber daya tanah koloninya. Pada awal abad ke-20 negara-negara kolonial dan koloni mereka menguasai 85% dari daratan dunia, dan budaya Barat menyebar ke seluruh dunia.

Hingga hari ini, dalam dunia ini, tata letak kepentingan yang dilihat setiap orang, pada dasarnya berpusat di negara-negara Barat yang maju, dan peraturan permainan pada dasarnya dirumuskan oleh negara-negara maju ini setelah Revolusi Industri. Dan dalam aturan permainan ini, pasti ada tanda-tanda hegemonisme, kolonialisme dan imperialisme. Dengan kata lain, sistem mereka paling menguntungkan bagi mereka.

Setelah Perang Dingin berakhir, ilmuwan politik Universitas Harvard, Francis Fukuyama, bahkan mengusulkan teori “akhir dari sejarah.” Dia menuliskan: “Apa yang mungkin bisa kita saksikan adalah akhir dari sejarah seperti itu: Itulah titik akhir evolusi ideologis umat manusia. Dan universalisasi demokrasi liberal Barat sebagai bentuk akhir pemerintahan umat manusia” (What we may be witnessing is the end of history as such: That is, the end point of mankind’s ideological evolution and the universalization of Western liberal democracy as the final form of human government.)

Tapi apa yang terjadi? Pada awal abad ke-21, AS memprakarsai Perang Afganistan dan Perang Irak dengan alasan “Kejahatan Terhadap Kemanusiaan.” (“crimes against humanity.”) Dan mengusulkan “Rencana Timur Tengah yang lebih Baik (Greater Middle East Plan).”

Mereka menggunakan senjata untuk memaksa sistem nilai AS (demokrasi) ke Timur Tengah, namun Timteng memiliki kebudayaan lokal sendiri, budaya Islam. Jelas, dalam masyarakat manusia, kita tidak bisa memaksakan satu jenis budaya dan sistem nilai kita ke negara lain.

Metode perang tidak menciptakan demokrasi Amerika, namun menyebabkan Timteng jatuh dalam peperangan dan kekacauan, memperdalam pertentangan budaya, dan memberikan kesempatan kepada terorisme untuk menyebar.

Pada tahun 2002, tahun pertama setelah Perang Afganistan berakhir, ada seorang analis mengunjungi Afganistan. Adegan perang yang dia lihat benar-benar tragis, dan yang sangat menghancurkan adalah ketika dia melihat orang-orang remaja di tempat itu sekitar umur 12 dan 13 tahun menyadang senjata. Ketika dia bertanya kepada masyarakat setempat mengapa mereka membiarkan anak-anak membawa senjata? Mereka mengatakan bahwa mereka tidak punya makanan untuk makan, jadi mereka harus membawa senjata sebagai pekerjaan untuk mendapatkan makanan.

Jadi dalam situasi seperti itu, jika tidak ada perdamaian, tidak ada pembangunan. Begitu pula jika tidak ada pembangunan ekonomi, yang ada hanya kemiskinan, dan perdamaian tidak akan terjadi secara berkelanjutan.

Pada tahun 2002, dalam sebuah jajak pendapat pada publik AS yang dilakukan oleh Zegby International yang berbasis di AS, mengungkapkan bahwa 78% orang Arab membenci AS. AS yang sedang tenggelam dalam lumpur Perang Afganistan, mulai menyadari bahwa hal itu tidak dapat membawa stabilitas kepada Afganistan dengan kekuatan militer saja.

Maka pada tahun 2011, AS meluncurkan strategi Jalur Sutra Baru a la AS.

Rencana Jalur Sutra baru dibuat seluruhnya untuk berkoordinasi dengan AS untuk menarik pasukannya keluar dari Afganistan, tapi menginginkan AS terus bisa memepetahankan pengaruhnya di kawasan tersebut setelah pasukannya ditarik keluar.

Rencana ini dipimpin oleh AS dengan bertujuan untuk membangun jaringan ekonomi dan transportasi internasional yang berpusat di sekitar Afganistan yang menghubungkan Asia Tengah dan Selatan. Dan ini jelas berusaha untuk menekan Iran dan melemahkan pengaruh Rusia di Asia Tengah. Selain itu, rute tersebut sengaja untuk mengelilingi untuk mengepung Tiongkok. Tetapi negara-negara kunci India dan Pakistan menjadi sulit untuk dikoordinasikan kepentingan bersama mereka.

Jadi rencana ini lebih kearah untuk menyingkirkan pengaruh Rusia dan mengecualikan Tiongkok, rencana ini terlalu banyak bertujuan strategis, sehingga tidak jalan.

Usulan Tiogkok “Belt and Road”

Seperti yang telah diungkapkan diatas, Inisiatif “Belat and Road” yang diusulkan Presiden Xi pada 2013, lebih menekankan pada keterbukaan dan penerimaan, serta kerja sama damai, saling belajar, kerajsama yang saling menguntungkan. Dan terbuka menerima model kerja sama, yang ternyata mendapat respon positif dari lebih banyak negara, dan mereka mulai bekerja sama dan berkomunikasi.

Kuncinya dikarena gagasan ini semua jalur pengembangan dan model ditempatkan pada faktor umum yang sebesar-besarnya. Faktor ini adalah “berbagi untuk masa depan kemanusiaan bersama.” Dan Tiongkok menekankan bahwa mereka tidak ingin menggunakan “Belt and Road” untuk membuat model pengembangan yang akan menggantikan yang lain.

Tapi, orang yang percaya terhadap teori politik tradisional Barat masih tetap curiga.

John Mearsheimer sorang intelektual AS ada menuliskan dalam bukunya yang terkenal “The Tragedy of Great Power Politics” , Ada alasan untuk percaya bahwa Tiongkok yang terus tumbuh lebih kuat, para elitnya akan meniru AS dan memaksimalkan otoritas globalnya seperti Amerika Serikat. Tiongkok tidak punya pilihan lain jika tujuan utamanya adalah bertahan. Ini adalah tragedi politik kekuasaan yang sangat gawat.” Teori ini selama ini diterima oleh sebagian besar ahli srategis AS.

Pandangan John Mearsheimer dalam bukunya ini bukannya tanpa pamrih atau berdasar, karena dalam ribuan tahun sejarah manusia memiliki pola-pola yang demikian, Negara kuat berusaha untuk memerintah. Selama Perang Dingin, dua negara adidaya AS dan Uni Soviet bertarung untuk hegemoni global dan menyebarkan pengaruhnya. Situasi ini hanya menyisakan satu pemenang.

Maka tidak heran AS kini juga telah mulai dengan hati-hati menanggapi Inisiatif “Belt and Road” Tiongkok. Pada 15 Mei 2015, Assistant Secretary of State for South and Central Asian Affairs atau Menteri Urusan Asia Selatan dan Tengah AS, Nisha Biswal mengatakan, Asia Tengah bukanlah tempat untuk “oposisi zero-sum” Wakil Menteri Urusan Asia Tengah dan Selatan, Richard Hoagland bahkan memimpin sebuah tim untuk mengunjungi Tiongkok untuk melihat bagaimana kemungkinan untuk bisa menghubungkan “Jalur Sutra Baru (AS)” dengan “Belt and Road.”

Pandangan Baru Pada Jalur Sutra Modern

Jalur Sutra kuno yang membentang lebih dari 2.000 tahun. Telah melalui beberapa dinasti dan naik turunnya kekuatan utama, namun Jaur Sutra ini tetap ada, dan negara-negara dengan sistem agama dan peradaban yang berbeda dapat berpartisipasi didalamnya---itu merupakan sebuah wahyu penting yang telah diberikan oleh Jalur Sutra kuno kepada kita hari ini.

Hari ini, bagaimana kita agar dapat menerapkan rencana internasional yang terbuka, menerima, saling menguntungkan untuk kemungkinannya bagi berbagai negara, budaya dan kelompok dengan menciptakan “Belt and Road.”

Hasil penelitian dari “the US McKinsey & Company” menunjukkan bahwa perusahaan besar “Belt and Road” akan merevitalisasi kawasan lokal yang berkontribusi 80% pertumbuhan ekonomi global, dan diharapkan dapat meningkatkan 3 milyar orang ke kelas menengah sebelum tahun 2050.

Pada bulan September 2016, Tiongkok dan Kazakhstan menandatangani "Rencana untuk Menghubungkan Pembentukan Sabuk Ekonomi Jalan Sutra dengan Jalan Baru Strategi Ekonomi Ringan." Kazakhstan yang berada di Asia Tengah, dan berpenduduk 17 juta orang. Ini adalah tanah terkunci terbesar di dunia, dan juga yang terjauh dari laut, namun 90% perdagangan terjadi di laut. Kazakhstan juga merupakan anggota dari Eurasian Economic Union (EEU) yang dipimpin Rusia.

Untuk supaya agar Rusia mendukung memenuhi kebutuhan Khazakhstan dan agar memperdalam hubungan ekonomi antara negara-negara sekitarnya, Tiongkok mengusulkan Silk Road Economic Belt. Ini bukan saja hanya untuk Asia Tengah saja, tapi juga meluas ke Eropa, membantu mereka untuk membangun palabuhan, membantu Rusia, dan membantu negara-negara Asia Tengah untuk berkembang.

Pada bulan Mei 2015, pada kunjungan kenegaraan Presiden Tongpkok Xi Jinping ke Rusia, kedua negara menandatangani “Pernyataan Bersama Kerjasama Dalam Pengembangan Koordinasi EEU dan Silk Economic Belt.”

Yang mengkoordinasikan Belt and Road dengan rencana Rusia EEU, dengan demikian akan membawa ada banyak daerah kerja sama di kawasan ini. Misalnya, di Teluk , enam negara Teluk memiliki Dewan Kerja sama Teluk “Liga Arab” “Uni Afrika” dan “Belt and Road” harus berkoordinasi dengan kelompok-kelompok di kawasan ini.

Saat ini, Inisiatif “Belt and Road” Tiongkok telah mencapai koordinasi dengan rencana “Dua Koridor dan Satu Lingkar Ekonomi (Two Corridors and One Economic Circle)” Vietnam, “Rectangular Strategy,” Kamboja dan “Global Maritime Fulcrum,” Indonesia, Proyek Pengembangan Sabuk Trans-Eurasia Rusia (Russian’s Trans-Eurasian Belt Development project), Inisiatif “Steppe Road (Jalan Stepa)” Mongolia, untuk Kerjasama Teknik Multi Sektor dan Kerjasama Ekonomi.

Kita mengetahui bahwa “Belt and Road” bukan hanya milik Tiongkok. Tiongkok dan Negara-negara di sepanjang “Belt and Road” adalah mitra yang setara dalam pendiriannya. Dengan kata lain, tidak dapat dikatakan bahwa setiap pihak bekerja sama untuk memberikan kepada Tiongkok produk usaha massal, melainkan itu untuk semua pihak. Ini termasuk kerjasama biologis, juga mencakup dialog dan pertukaran ekonomi terpadu di beberapa kawasan.

Pada 7 April 2017, saat kunjungan Presiden Tiongkok Xi Jinping ke AS, dia menunjukkan kepada Presiden AS Donald Trump bahwa Tiongkok menyambut baik kerja sama AS dalam kerangka “Belt and Road.”

Pad 12 Mei 2017, AS mengkonfirmasi bahwa mereka akan mengirim delegasi untuk menghadiri Forum OBOR. Pada kenyataannya, kerja sama negara-negara Barat untuk Inisatif “Belt and Road” telah dimulai di beberapa daerah.

Jika di Afganista bisa sukses, itu akan benar-benar akan menjadi suatu layanan yang hebat. Mengingat Afganistan merupakan tempat ter-rumit dibanding tepat lain.

Forum “Belt and Road” satu Forum Kerjasama Internasional dan pengaruhnya sangat dalam terhadap masyarakat internasional juga menjadi topik yang menjadi perhatian bersama di kalangan akademisi Amerika dan Eropa.

Martin Jacques, seorang peneliti senior di Departemen Politik dan Studi Internasional di Universitas Cambridge Inggris percaya bahwa Tiongkok dan Eropa adalah asal-usul peradaban Timur dan Barat, dan memiliki catatan historis tentang perdagangan dan pertukaran melalui Jalur Sutra/Silk Road kuno.

Kini, Inisiatif “Belt and Road” akan membentuk kembali hubungan perdagangan dan politik antara Tiongkok dan Eropa.

Martin Jacques mengatakan: Jadi saya pikir ini bisa menjadi sumber potensial regenerasi besar di Eropa. Bisa jadi. Itu tidak akan tercapai besok, atau tahun depan, atau lima tahun atau sepuluh tahun ke depan. Tapi selama periode 50 sampai 100 tahun. Tapi proyek besar butuh waktu lama.

Jean Pierre, Mantan PM Prancis. Chairman of Committee on Foreign Relation of the French Seante mengatakan: Ini adalah inisiatif internasional, ini adalah rencana Tiongkok dan sebuah ciptaan Presiden Xi Jinping. Tidak hanya memperhatikan Asia Tengah, Asia Timur, dan Asia Barat, hal ini menyangkut Eropa, bahkan Afrika. Jadi, ini adalah rencana global dari mana seluruh dunia mendapatkan keuntungan. Di Eropa, kita mengakuinya, tapi kita juga perlu mempromosikannya. Semua kepala negara, kepala pemerintahan, dan negara-negara menganugerahi inisiatif besar untuk pembangunan dan perdamaian dengan kekuatan yang lebih besar lagi.

Nasser Abdulaziz Al-Nasser, High Representative for the UN Alliance of Civilazations, mengatakan: Kita tidak hanya melihatnya dari sudut pandang ekonomi, tapi juga dialog internasional, dialog antaragama, dan bagaimana kita dapat bekerja sama dengan semua peradaban besar. Dengan kerja sama ini, saya pikir kita bisa meraih banyak, banyak hal hebat untuk dilakukan bekerja sama.

Pada abad ke-21, umat manusia perlu merenungkan masa lalu, dan pengalaman dari 1.000 tahun sejarah masa lalu. Dengan kata lain, bisakah semua agama mempelajari kekuatan lain untuk mengatasi kelemahan mereka, dan saling menggabungkan, dan dapatkah semua negara yang berbeda, dengan kepentingan mereka, mencapai situasi menang-menang (win-win) melalui kerja sama? Xuanzang dari Tiongkok pergi ke India untuk mengumpulkan kitab suci meski jaraknya sangat jauh dan membawa budaya India ke Tiongkok, dan kemudian menjadi bagian dari budaya orang Tiongkok, dan ini meningkatkan tingkat kebudayaan orang Tiongkok,. Jika berpikir kembali nenek moyang kita bisa melakukan ini, lalu mengapa kita tidak bisa di dunia sekarang?

Samuel Huntington, penulis buku dari Amerika yang terkenal, "The Clash of Civilizations on the Remarking the World Order," percaya bahwa sulit menemukan kedamaian di antara bentrokan peradaban; Penulis "The Tragedi of Great Power Politics" percaya bahwa perang antara negara-negara berkembang dan negara mapan tidak bisa dihindari; Ahli strategi AS terkenal Henry Kissinger, penulis "Worl Order," juga tidak mempunyai jawaban untuk tatanan dunia masa depan.

Inisiatif "Belt and Road" yang terbuka, saling menerima, saling berbagi, saling menguntungkan bersama adalah proyek besar untuk membangun "masa depan bersama bagi umat manusia".

Seseorang mungkin pernah muncul dengan konsep berikut: dari sekelompok orang yang ingin membangun rumah, tapi setiap orang memiliki rencana sendiri - ini dikenal sebagai keragaman. Ada baiknya semua orang berkonsultasi dan berkoordinasi untuk membentuk faktor umum bersama, dan menekankan landasan bersama mereka, dengan apa yang kita kenal dengan dapat menerima pembelajaran satu sama lain, dan dengan semua ini rumah itu kita bangun.

Dalam budaya dan sejarah Tiongkok, Konfusianisme, Buddhisme, dan Taoisme dapat secara inklusif saling berdampingan. Di era desa global saat ini, usulan Tiongkok untuk membangun masa depan bersama umat manusia adalah jenis kebijaksanaan filosofis. Demikian menurut sebagian analis dan pengamat untuk gagasan “Belt and Road” ini.  [Sucahya Tjao/IG/KIN]

Sumber: Media TV dan Tulisan Dalam & Luar Negeri

No comments

Silahkan berkomentar di kolom sini :