Recent comments

Breaking News

Indonesia di ambang perpecahan? Intoleransi dan radikalisme terjadi di mana-mana? Hm, kata siapa?

by. Ippho Santosa



Indonesia di ambang perpecahan? Intoleransi dan radikalisme terjadi di mana-mana? Hm, kata siapa?

Maaf, amat sempit kalau kita menilai toleransi dan intoleransi hanya dari pilkada saja. Pilkada yah pilkada. Memang, kalau kita bicara pilkada DKI, ada kompetisi yang sengit di sana. Sebenarnya, ini sih lumrah, marak terjadi di mana-mana. Bukan cuma Jakarta. Bukan cuma Indonesia.

Terus, apa iya, orang Indonesia mendadak intoleran dan radikal hanya karena pilkada? Nggak dong. Kalaupun sempat terjadi, itu cuma temporer dan parsial. Waktu tertentu, tempat tertentu. Betul apa betul?

Fyi, merebaknya hoax dan hate speech di social media, bukan saja menjadi masalah Indonesia. Melainkan sudah menjadi masalah dunia. Sampai-sampai sejumlah negara meminta bantuan PBB. Tapi, tolong diingat, itu kebanyakan terjadi di social media saja.

Tentu, saya tidak membenarkan hoax dan hate speech di social media. Ini perlu kita tangkal sama-sama. Tapi, jangan pula kita melebih-lebihkan, seolah-olah ini sudah gawat darurat dan mewabah ke lingkungan rumah juga lingkungan kerja.

Di social media, karena absennya tatap muka, orang sering bicara seenaknya. Kadang rasis, kadang kebencian, kadang keceplosan, kadang salah paham. Nah, akan beda ceritanya kalau tatap muka. Orang cenderung menahan diri, mencoba mengerti, dan berempati.

Menariknya lagi, tidak ada istilah mayoritas dan minoritas dalam konstitusi kita. Yang ada cuma istilah kelompok yang berbeda-beda. Itulah hebatnya Founding Fathers kita. Visioner, sudah memikirkan ini sejak lama. Di Barat, jangan salah, memang sudah pakem istilah mayoritas dan minoritas itu.

Satu hal lagi. Sekhilaf-khilafnya kita, belum ada statement rasis dari Istana Negara. Siapapun presidennya. Paling cuma celetukan netizen. Lha di Amerika, statement rasis sudah menyeruak dari Gedung Putih. Kurang toleran apa Indonesia?

Kita amati dan cermati hal yang lebih kecil, seperti hari libur. Masing-masing penganut agama di Indonesia memiliki 'jatah' hari libur ketika tiba hari rayanya. Di Barat? Mana ada! Seringkali hari libur dinikmati hanya agama mayoritas. Kurang toleran apa Indonesia?

Presiden ke-44 Amerika, Barack Obama, saat berlibur ke Borobudur dan Prambanan, lalu berbicara di event diaspora Sabtu yang lalu, akhirnya mengakui betapa tolerannya Indonesia. Borobudur adalah candi Buddha terbesar. Prambanan adalah candi Hindu yang besar. Meskipun keduanya berada tepat di lingkungan Muslim, tapi tetap utuh terawat sampai sekarang.

Itulah Indonesia. Sejak dulu, sampai kapanpun, insya Allah. Sejarah merekam, agama-agama yang datang kemudian di nusantara, seperti Islam dan Kristen, bisa masuk dengan damai. Umat Hindu dan Buddha yang sudah ada sejak awal menunjukkan toleransinya.

Toleransi dan kebersamaan itu teramat mahal. Mari kita jaga sama-sama. Toh, laguku dan lagumu masih sama, Indonesia Raya. Sekian dari saya, Ippho Santosa.[IG/KIN]


No comments

Silahkan berkomentar di kolom sini :