Apa dan Siapa itu KAFIR

oleh : Nandang Suhendar




KABARINDO - Kafir = kufur = cover, Kata kafir sebenarnya bersifat netral.
Tidak berkonotasi negative atau positive. Kata ini berasal dari bahasa Arab
“kufur” yang artinya “menutup”.

Pada masa sebelum Islam, istilah kufur digunakan untuk para petani yang sedang menanam benih di ladang, yang kemudian menutupnya (kufur) dengan tanah.
Oleh sebab itulah petani disebut juga sebagai “kuffar” (bentuk jamak dari kafir).

Dalam bahasa Inggris kita juga mengenal istilah yang hampir sama. “Cover” yang artinya antara lain menutupi, tutup, sampul dan lain sebagainya. Nampaknya kata “cover” memang berasal dari akar kata yang sama, bahasa Arab yang artinya menutup.

Dalam perkembangannya, khususnya dalam terminology Islam, orang disebut “kafir” apabila orang itu menutup dari kebenaran ajaran Islam. Orang ini mengingkari Allah subhanahu wata’ala sebagai satu satunya yang berhak disembah dan mengingkari Rasul Muhammad shallallahu alaihi wasallam sebagai utusan-Nya.
Dari definisi ini jelas, bahwa kafir bukan suatu kata yang dimaksudkan untuk menghina atau melecehkan agama apapun, baik secara eksplisit maupun implisit.
Tidak ada kaitannya dengan menuduh orang lain tidak beragama atau tidak berTuhan.
Apalagi dikait-kaitkan dengan upaya memecah belah bangsa.

Bisa disimpulkan bahwa ketika umat Islam mengistilahkan orang beragama lain sebagai kafir, itu adalah pengistilahan yang biasa saja, tidak perlu disikapi sebagai sebuah penghinaan.
Karena memang tidak ada unsur penghinaan sama sekali di situ. Tidak ada unsur memecah belah bangsa sedikitpun. Ini sekedar penamaan atau istilah yang memang dipergunakan dalam terminology Islam.
Bahkan Al-Quran sampai membahasnya khusus di surat yang diberi nama Al-Kafirun. Di surat Al-Kafirun tidak ada sama sekali pelecehan atau penghinaan terhadap orang kafir.
Bahkan dengan sangat indah sekali dijelaskan bahwa antara orang Islam dan orang kafir (orang beragama selain Islam) harus saling menghormati, tidak boleh saling memaksakan keyakinan. Untukmu agamamu, untukku agamaku. Tidak ada paksaan dalam beragama.


  1. Katakanlah: Hai orang-orang kafir (orang yang beragama selain Islam, orang-orang yang tidak mengakui Allah subhanahu wata’ala sebagai satu-satunya yang berhak disembah dan mengingkari Rasul Muhammad shallallahu alaihi wasallam sebagai utusan-Nya).
  2. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah
  3. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah
  4. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah
  5. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah
  6. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku


Sehingga kalau ada orang yang beranggapan bahwa orang Islam yang menyebut umat beragama lain sebagai kafir identik dengan menghina, melecehkan dan menodai kerukunan umat beragama,
maka hanya ada 2 kemungkinan mengapa orang itu beranggapan demikian .

Kemungkinan pertama, karena ia memang hobby BERBURUK SANGKA KEPADA AJARAN ISLAM dan pengikutnya. Ia tidak mau tahu apa arti kata kafir yang sebenarnya.
Walaupun sudah dijelaskan sejelas-jelasnya, baginya kata kafir adalah kata yang hina yang akan memecah belah bangsa, yang harus dihapus. Tidak boleh kata itu dipakai untuk mengistilahkan umat beragama lain. KEBENCIANNYA TERHADAP UMAT ISLAM DAN AJARAN ISLAM TELAH MENUTUP MATA HATINYA .
Baginya, umat Islam atau siapapun yang menggunakan kata-kata kafir adalah manusia yang bodoh, kasar, radikal, intoleran, rasis, penebar kebencian, bigot, dan pemecah belah bangsa.

Sedangkan kemungkinan kedua, karena ia sesungguhnya belum mengerti sama sekali arti kata kafir. Ia tidak mengetahui dari mana asal usul kata kafir bermula. Ia sudah terlanjur terkontaminasi oleh pendapat orang lain yang sebenarnya tidak mengerti tentang ajaran Islam. Ia pikir kata kafir adalah kosakata bahasa Indonesia yang artinya sangat kasar, menyakitkan, berbau penghinaan, yang tidak pantas diucapkan oleh orang yang beradab. Ia pikir kalau orang disebut kafir berarti orang itu dituduh tidak mempercayai adanya Tuhan, tidak beragama, dan jahat.
Padahal tidak demikian arti kata kafir yang sebenarnya. Ketika diberi tahu arti yang sebenarnya, ia mau menerima penjelasan itu dan mau menghormati apa yang memang sudah menjadi bagian dari keyakinan umat islam tersebut.

Setiap Agama punya istilah tersendiri bagi mereka-mereka yang bukan dari golongannya, contohnya saja :
1. Menurut pandangan Hindu, bagi mereka yang non Hindu di sebut Maitrah
2. Menurut pandangan Kristen, bagi mereka yang non Kristen di sebut Domba tersesat
3. Menurut pandangan Budha, bagi mereka yang non Budha di sebut Abrahmacariyavasa
4. Menurut pandangan Islam,bagi mereka yang non Islam di sebut Kafir

Jadi orang-orang tidak perlu marah di sebut kafir, seperti halnya orang-orang tidak marah di sebut non Muslim, Karena istilah Kafir hanya sebuah status yang menyatakan keyakinan seseorang, bahwa kafir artinya ya Non Muslim

[RS/IG/KIN]
Share on Google Plus

About irfan Ge

    Blogger Comment
    Facebook Comment

6 komentar:

  1. Maitrah? Menurut Hindu? Dari mana anda dapat rujukan seperti itu? Sedangkan Hindu adalah agama tertua. Jangan sembarangan menafsirkan arti kata yang tidak benar benar anda tahu. Thanks

    ReplyDelete
  2. Maitrah artinya selalu membangun sikap bersahabat.

    Dari foto yang anda pasang di atas, dia bangga menjadi Kafir, karena "citra/kesan" yang mengucapkan kafir, sering membuat keributan. (Alkaida, ISIS & Ormas berpakaian putih-putih di negeri ini, yang merasa Suci) *Orang-orang tersebut tidak termasuk "Maitrah", melainkan "Bi**ab", memaksakan kehendak seperti semboyan salah satu partai masa lalu, "Sama rata, sama rasa". Kewajiban lingkungan sekitar harus sejalan dengan apa yang mereka inginkan. Terima kasih. #Salam_NKRI

    http://phdi.or.id/artikel/mereka-yang-dapat-disebut-bhakta

    ReplyDelete
    Replies
    1. bersihkan hati dan otak anda terlebih dahulu dari kebencian kpd Islam, baru anda akan bersikap objektif, diatas telah dijelaskan arti kafir sesungguhnya, yaitu non muslim
      Walaupun anda sudah dijelaskan sejelas jelasnya arti kafir sesungguhnya, krn anda benci Islam, akan tetep objektif sikap anda...
      seperti halnya orang kristen menilai orang2 diluar agama mereka adalah domba2 tersesat...

      Bukan alkaida, ISIS dan ormas berpakain putih2 dinegeri ini yg bilang kafir kpd non muslim, kami semua umat Islam, berkata kafir kpd semua yg selain umat Islam, krn memang itu julukan dari pedoman kami yg gak sepaham dengan keyakinan kami, Tuhannya Allah dan rasulunya Muhammad Shollallahu 'alaihi wasallam

      bersihkan hati anda dahulu, baru komentar
      Salam NKRI

      Delete
  3. Domba yang tersesat bukann sebutan untuk kaum non Kristen, tolong dilihat lagi sumbernya. Terima Kasih , Salam Damai

    ReplyDelete
  4. Maaf, mohon mencantumkan darimana rujukannya, bahwa umat Budha menyebut non-Budha sebagai Abrahmacariyavasa. Saya menjadi umat Budha tidak pernah diajarkan membedakan antara Budha dan non-Budha, karena segala sesuatu adalah kosong. Terimakasih dan salam damai.

    ReplyDelete
  5. Tentu saja pembahasan tentang pergeseran makna “kafir” dalam empat fase al-Qur’an itu membutuhkan diskusi panjang. Saya hanya akan menyebutkan beberapa poin yang menonjol saja. Seperti, https://www.itsme.id/siapakah-orang-kafir-itu-telaah-kronologi-dan-semantik-al-quran/

    ReplyDelete

Silahkan berkomentar di kolom sini :