Recent comments

Breaking News

Nostalgia Partai Komunis



BERITABARU- HAI Bung Budiman, apa kabar di parlemen? Masih ingat kami, anak-anak ingusan yang dulu sering teriak ‘bantai Orba’ bersama kawan-kawan Bung di PRD? Kami masih ingat betul kok, tangan kanan Bung, Si Faisol Reza sering menyambangi kami atas nama perjuangan kaum tertindas. Itu bocah gimana kabarnya? Mudah-mudahan sesukses Bung, Dita, dan Andi juga.
Kami sengaja bertanya kabar, karena mungkin kita sudah pisah hampir 20 tahun lamanya. Tak pernah ada kabar, eh, tahu-tahunya Bung sudah melang-lang buana sebagai elit politik nasional. Bahkan partai Bung sampai menang pemilu. Kami akui jalan yang Bung pilih benar. Politik memang hanya memberi dua opsi: menjadi bagian dari kekuasaan (seperti Bung) atau mati konyol sebagai oposisi jalanan (seperti kami).
Meskipun tidak nyaring lagi suara Bung di hadapan publik, tapi kami yakin mental Bung tidak setempe itu dalam menghadapi kaum borjuis nasional. Walaupun Bung hanyalah anak bawang (karena Tuhan sepertinya salah mengirim Bung kepada orang tua yang bukan berasal dari trah Soekarno), Bung tetap berusaha menginjeksi paham-paham Marxisme ke tubuh partai yang Bung jadikan induk semang saat ini.
Bagi kami sah-sah saja pilihan Bung ini. Sebab yang terpenting adalah tujuan akhirnya. Bung berpandangan, Lenin bisa menampakan dalam wujud yang fleksibel. Boleh jadi Lenin berkopiah, Lenin berbaju batik, Lenin hormat bendera, Lenin hafal Pancasila, serta Lenin-Lenin dalam entitas lain yang penting sama-sama Lenin. Bung pun tahu, golongan kami tidak begitu suka hipokrisi macam begitu. Jangankan hipokrisinya, Lenin-nya pun kami benci. Mungkin itu dulu yang membuat kita akhirnya pisah ranjang (kalau Bung masih ingat).
Tak kami sangka, gerakan Bung amat progresif. Kami saksikan di berbagai media, pemerintahan sekarang (pemerintahan dari partai Bung), punya platform politik yang sangat bernuansa kiri. Mulai dari gaya komunikasi politiknya hingga slogan-slogannya mengingatkan kami pada jaman Stalin masih duduk di kursi empuk. Kawan-kawan Bung pun kelihatan banyak yang jadi mualaf komunis, salah satunya istri Bajaj Bajuri. Hebat kamu Bung! Puji Marx, Engkau telah tunjukan wanita ini ke jalan yang benar!
Kami juga salut pada Bung, atas usaha diplomasi Bung mendekatkan negara ini ke arus Marxisme modern terbesar saat ini, China. Pemerintahan sekarang bahkan menyandarkan sebagian besar pembangunan ekonominya kepada negara komunis terbesar itu. Kami pun jadi teringat hubungan mesra DN Aidit dengan Mao Tse Tung (dewa komunisme China) di era 60-an. Agaknya, Bung tidak bisa lepas dari nostalgia ideologis dengan Maoisme. Maklum, bumbu micin Maoisme memang lebih cocok di lidah orang kita ketimbang vodka Leninisme yang berpotensi merusak ginjal tatanan sosial kita.
Lebih terperanjat lagi hati kami, ketika Bung juga berhasil membentuk “angkatan kelima” yang dulu digagas DN Aidit dan gagal. Kaum buruh dari China yang Bung selundupkan lewat selimut proyek infrastruktur, telah datang ke medan perang kita. Bahkan jumlahnya mencapai puluhan ribu, hanya dalam beberapa bulan saja. Mereka semua angkatan muda yang kuat dan tangguh. Apabila mereka dipersenjatai, tentu ini akan menjadi kekuatan besar. Saya yakin Bung telah mengajukan semacam proposal ke kawan-kawan Bung di Partai Komunis China seperti halnya konsep yang pernah digagas Perdana Menteri sekaligus kawan lama, Chou En Lai.
Kami bisa membayangkan seberapa besar kekuatan kaum komunis. Dari dalam negeri, kita punya kalangan nasionalis borjuis, yang meskipun kelihatan pragmatis hanya urusan perut, mereka bisa diandalkan. Manipulasi politik yang jadi keahlian mereka, harus Bung manfaatkan betul-betul. Bung juga punya banyak kaum intelektual liberal yang sukses membasmi musuh-musuh sayap kanan. Ditambah lagi dukungan luar negeri dari China. Negara itu agaknya juga punya kepentingan agar komunisme turut tumbuh subur di negeri ini. Dan, partai Bung punya segudang konglomerat ‘China pribumi’ yang pasti siap menyokong segala jenis pendanaan atas nama tanah leluhur tercinta.
Kami selalu ingat, ‘tidak ada makan siang gratis’. Setidaknya, Bung harus tetap bekerja dalam landasan itu. Pengabdian Bung pada kamu nasionalis hipokrit, seharusnya diniatkan dalam rangka pembentukan front nasional yang nantinya akan diarahkan menuju kepartaian yang komunistis.
Setelah komunis berhasil merebut negara, baru gaya ekskusi ala Lenin bisa Bung terapkan. Sikat siapapun yang menjadi kerikil-kerikil revolusi. Entah itu kawan kita sendiri, apalagi orang lain di seberang ideologi. Memang seperti itulah yang diharapkan junjungan kita Karl Marx. Kami harap Bung telaten melalui tahapan-tahapan sosialisme sebagaimana yang digariskan Marx.
Dengan berbagai fakta di atas, kami rasa, tidaklah terlampau buru-buru kalau kami nyatakan inilah saat yang tepat untuk Bung mendirikan (kembali) Partai Komunis yang Bung idam-idamkan itu. Bersama kaum Maois China, kami yakin Bung bisa membangkitkan lagi cita-cita kawan Aidit.
Semoga berhasil dan tidak ketahuan, Bung!*[]
Ditulis oleh: Tao Ming Tse, Penabuh gendang band punk F4
‘Buruh Cina Sedunia, Bersatulah!’
sumber : konterkultur.com
[IG/BB]

No comments

Silahkan berkomentar di kolom sini :