Recent comments

Breaking News

Surat terbuka JasMEV untuk JOKOWI





Berita Baru - Kebijakan Presiden Jokowi yang cukup liberal dengan menyerahkan
mekanisme harga bahan bakar minyak (BBM) ke pasar
dan menaikkan harga barang-barang rumah tangga
dikeluhkan masyarakat. Apalagi, kenaikan harga barang
hampir terjadi berbarengan dalam tempo singkat.
Contohnya, harga sembako, elpiji, tarif listrik, kereta api,
angkutan umum, semua naik dalam waktu singkat.
Dampaknya, sejak Jokowi naik tahta, masyarakat belum
mendapat manfaat apapun, meskipun sang presiden
berjanji akan membangun infrastruktur secara besar-
besaran.
Menyikapi keadaan itu, salah satu pendukung Jokowi
semasa kampanye Pilpres 2014, merasa kecewa. Orang
itu adalah Fahd Pahdepie yang kini menempuh
pendidikan di Monash University. Dia pun akhirnya
menulis surat terbuka untuk Jokowi melalui akun
Facebook miliknya.
Berikut tulisannya:

SURAT UNTUK PRESIDEN JOKOWI

Pak Presiden Jokowi yang baik hati,
Tentang kenaikan harga bahan bakar minyak, kami
mungkin tidak pandai berhitung: Bagaimana sebenarnya
harga minyak ditentukan? Bagaimana neraca
perekonomian nasional diperlakukan? Atau
pertimbangan apa yang dipakai sehingga satu-satunya
pilihan untuk ‘menyelamatkan seluruh bangsa dan
negara’ harus sama dan sebangun dengan menaikkan
harga-harga?
Bagi kami, angka-angka selalu terdengar sebagai ilusi
belaka, Pak. Setiap hari kami mendengar satuan ‘miliar’
atau ‘triliun’ disebutkan dalam berita-berita, tanpa
pernah benar-benar melihatnya dalam bentuk yang
sesungguhnya—apalagi menghitungnya satu per satu.
Hidup kami sederhana, disambung lembaran-lembaran
uang recehan. Ilmu hitung kami kelas rendahan: Berapa
untuk makan sehari-hari, uang jajan anak sekolah, biaya
transportasi, biaya listrik bulanan, dan kadang-kadang
cicilan motor, dispenser atau DVD player.
Tak perlu kalkulator. Bila sedang beruntung, kami bisa
punya sisa uang untuk jalan-jalan di akhir pekan. Bila
sedang sulit, kami tidak kemana-mana, Pak: Kami
mencari kebahagiaan gratisan di televisi—meski kadang-
kadang justru dibuat pusing dengan berita-berita
tentang pejabat-pejabat negara yang korupsi.
Tahukah Bapak, di televisi, juga koran-koran dan
majalah: Kami seperti tak punya presiden! Kami seperti
tak punya pemimpin! Negara ini terlanjur dikuasai para
bandit dan bajingan tengik yang hanya tahu tentang
memperkaya diri sendiri! Ah, mungkinkah Bapak tak
sempat menonton TV atau membaca koran sehingga
Bapak tak mengetahuinya? Tapi, kemana saja sih Bapak
selama ini? Ngapain saja di istana? Mana janji-jani
Bapak yang dulu terdengar indah dan gegap gempita?
Kami, rakyat biasa, sesekali butuh kabar gembira, Pak.
Kadang-kadang kami berkhayal bahwa jangan-jangan
kami ini sedang hidup dalam sinetron? Mungkinkah
yang duduk di istana negara itu bukan Bapak—tapi
kembaran Bapak yang menyamar atau tertukar? Kemana
Bapak yang dulu penuh semangat untuk
menyejahterakan rakyat? Lupakah Bapak pada janji-
janji Bapak? Mungkinkah kepala Bapak terbentur batu
dan lantas hilang ingatan?
Pak Presiden yang baik,
Harga BBM terlanjur naik… Sempat juga turun, tetapi
kemudian naik lagi, dan naik lagi. Konon ia mengikuti
mekanisme pasar, bergantung pada naik-turun harga
minyak dunia. Tapi, Pak, di pasar-pasar becek yang
kami tahu, ketika harga sudah terlanjur naik karena
BBM naik, ia tak kenal kata turun lagi! Apakah Bapak
juga mau menyerahkan nasib kami kepada mekanisme
pasar dunia? Alamak!
Lihatlah pejabat-pejabat anak buah Bapak yang hanya
bisa meminta kami bersabar dan mengerti! Dengan
gagah dan seolah baik hati konon mereka akan
memberi kami kompensasi: Membuat kami mengantre
untuk mendapatkan uang bantuan agar kami tak
merasa kesulitan.
Tapi, pikiran kami sederhana saja, Pak, benarkah Bapak
suka melihat kami mengantre—panjang-mengular dari
Sabang sampai Merauke? Kami tidak suka itu, Pak.
Kami tak suka terlihat miskin, apalagi menjadi miskin.
Kalau memang Bapak punya uang untuk dibagikan
kepada kami, pakailah uang itu, kami rela
meminjamkannya untuk menyelamatkan ‘perekonomian
nasional’ yang konon tak kuasa menahan gertakan
dollar Amerika dan gejolak harga minyak dunia.
Pak, sudahlah, tak perlu mengeluarkan kartu apa-apa
lagi… Dompet kami sudah cukup tebal dengan kartu-
kartu, tetapi sekaligus hanya memuat lembar-lembar
rupiah yang makin hari makin tipis. Sudahlah tak perlu
menyalahkan siapa-siapa, berdirilah untuk membela
kepentingan dan nasib hidup kami.
Ada apa dengan Bapak ini? Tak perlu takut siapa-siapa,
Pak! Bila Bapak disandra mafia, pejabat-pejabat yang
bangsat, atau pengusaha-pengusaha yang menghisap
rakyat, tolong beritahu kami: Siapa saja mereka? Kami
akan bersatu untuk membantu Bapak melawan dan
melenyapkan mereka. Tentu saja, semoga Bapak bukan
salah satu bagian dari mereka!
Pak Presiden yang baik,
Dengarkanlah kami, berdirilah untuk kami, berbicaralah
atas nama kami, belalah kami: Maka kami akan selalu
ada, berdiri, bahkan berlari mengorbankan apa saja
untuk membelamu. Berhentilah berdiri dan berbicara
atas nama sejumlah pihak—membela kepentingan-
kepentingan golongan atau partai. Berhentilah jadi
bagian dari mereka yang ingin kami benci sampai mati.
Jangan jadi penakut, Pak Presiden, jangan jadi
pengecut!
Buanglah kalkulatormu, singkirkan tumpukan kertas di
hadapanmu, lupakan bisikan-bisikan penjilat di
sekelilingmu! Lalu dengarkanlah suara kami, tataplah
mata kami: Tidak pernah ada satupun pemimpin di atas
dunia yang sanggup bertahan dalam kekuasaannya jika
ia terus-menerus menulikan dirinya dari suara-suara
rakyatnya!
Pak Presiden,
Sekali lagi, tentang kenaikan harga minyak, barangkali
kami memang tak pandai berhitung. Tapi, sungguh,
kami tak perlu menghitung apapun untuk memutuskan
mencintai atau membenci sesuatu; Termasuk mencintai
atau membencimu!
-Dari seseorang yang dulu mendukungmu, yang kini
merasa kecewa karena Bapak menyia-nyiakan
dukungan itu!

FAHD PAHDEPIE

PS: Saya pernah mengirimkan sebuah surat dengan
nada yang sama kepada Presiden SBY, tahun 2012.
[IG/BB]

Sumber : repoblika.co.id

No comments

Silahkan berkomentar di kolom sini :